Welcome to Our Website

Suka Duka Mahasiswa Tingkat Akhir Selesaikan Skripsi di Tengah Corona

Dalam suasana normal, tugas akhir skripsi tak jarang jadi momok bagi tiap tiap mahasiswa. Proses pengerjaan skripsi yang mengambil waktu, tenaga, biaya, dan anggapan membuat mahasiswa serasa dambakan langsung menyelesaikannya. Lalu, bagaimana terkecuali mengerjakan skripsi di tengah suasana pembatasan fisik (physical distancing) lantaran wabah pandemi corona?

mewawancarai sejumlah mahasiswa tingkat akhir di bermacam universitas untuk share kisah penyusunan skripsi di tengah wabah corona.

 

1. Ravinska Minerva Azura (Planologi/ Perencanaan Wilayah dan Kota ITB, 2016)

Ravinska atau akrab disapa Kaka waktu ini tengah mengerjakan tugas akhir tentang kebencanaan dan mengambil lokasi penelitian di Daerah Alir an Sungai Citarum Bandung. Dalam suasana darurat corona, ia kudu melaksanakan segala kesibukan kuliah dan bimbingan skripsi secara online dengan jasa pembuatan skripsi kedokteran.

Seluruh persiapan skripsinya waktu ini udah memasuki step pengambilan data. Namun, suasana corona mengharuskan ia merubah metode pengambilan data yang mulanya survei primei jadi belajar literatur gara-gara ikuti imbauan kampus.

“Rencananya mulanya adalah setelah basic teorinya mantap sesudah itu selesai bersama dengan asumsi spasial, aku dapat melaksanakan triangulasi data, yaitu bersama dengan survei primer ke lokasi yang muncul di hasil penelitian. Selain itu, terhitung rela melaksanakan wawancara ke lebih dari satu stakeholders perihal baik dinas maupun pemerintah daerah,

Pengubahan lingkup pengerjaan tugas akhir selanjutnya di ITB adalah wujud respon untuk menanggung keamanan mahasiswa di suasana pandemi corona. Dengan demikian, persiapan skripsi yang Kaka melaksanakan jadi agak kacau. “Dukanya adalah jadi agak kacau semua persiapan yang udah dilaksanakan untuk pengambilan data.

Mau tak rela survei primer kudu dihilangkan atau diubah caranya biar bisa safe dan tak kudu muncul rumah,” ujarnya.

Hambatan lainnya yang ia rasakan adalah pencarian data untuk analisis. Ia mengatakan data untuk bahan asumsi yang umumnya diperoleh di dinas-dinas perihal sukar untuk diakses. “Karena gak hanya banyak yang bentuknya hard copy, data soft copy pun banyak yang lokasi penyimpanannya di kantor dinas.

Mesti kerja pintar sih di suasana layaknya ini dan selamanya berupaya mengomunikasikan rintangan ke dosen pembimbing, biar sama-sama tersedia jalur keluarnya dan jadinya bisa meminimalisir kerugian,” kata Kaka. Ia mengatakan networking dalam suasana waktu ini jadi terlampau berguna untuk mendapatkan data pendukung skripsinya. Menurutnya, perihal paling utama dan memudahkan mahasiswa untuk mengerjakan skripsi waktu ini yaitu transparansi pemerintah dalam data dan keaktifannya dalam mengunggah data ke situs agar bisa dibuka publik.

“Karena sebagai mahasiswa tentu tersedia waktu di mana kita butuh itu, tidak benar satunya kaya sekarang. Saya kira seharusnya kita udah tersedia dalam periode kemudahan membuka data,” ujar Kaka. Meskipun demikian, ia mengapresisi ITB lantaran pihak universitas bisa mengerti suasana yang terjadi waktu ini dan mengambil langkah strategis. Ia tak menampik tersedia lebih dari satu kenyataan pahit yang kudu ia telan dalam penyusunan skripsinya. “51 prosen (yakin lulus semester ini) terkecuali data-datanya dapat,” malah Kaka.

 

2. Nugi (Ilmu Sejarah UNS, 2016)

Sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, Nugi kudu melaksanakan penelusuran arsip dan literatur pendukung lainnya sebagai pendukung dalam penyusunan skripsi. Nugi mengatakan, ia terhalang untuk melaksanakan penelitian ke bermacam lembaga gara-gara keterbatasan akses di tengah corona.

Selain itu, ia merasakan kesusahan untuk melaksanakan wawancara ke narasumber untuk selesaikan skripsi. Ia pun pesimis skripsinya selesai di semester ini. “Kalau skripsi selesai semester ini tak mungkin. Minimal selesai di semester 9,” kata Nugi.

Dalam proses pencarian literatur skripsi, Nugi kudu mampir ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta. Sementara, ANRI waktu ini tengah menutup pelayanannya ke publik. “Akses perpustakaan terhitung ditutup, padahal buku sebagai penunjang utama skripsi,” ujar Nugi.

Saat ini, Nugi kudu mengeluarkan duwit ekstra untuk membeli literatur-literatur penunjang penulisan skripsi. Ia mengatakan akses perpustakaan terhitung ditutup di tengah kebijakan universitas terbaru. “Padahal buku sebagai penunjang utama skripsi. Pengeluaran skripsi jadi jadi tambah ya itu diantaranya kesusahan mencari literarur. Mau tak rela beli online,” ujar Nugi.

Ia berharap terhitung tersedia pengembalian UKT semester yang tengah terjadi waktu ini sebesar 50 persen. Menurutnya, waktu ini mahasiswa di UNS tak bisa memakai sarana di kampus. “Saya minta Mas Nadiem, terkecuali bisa UKT semester ini dialihkan untuk semester depan,” ujar Nugi. Ia pun kesusahan untuk melaksanakan bimbingan skripsi bersama dengan dosen pembimbingnya. Menurut Nugi, tersedia keterbatasan komunikasi untuk melaksanakan bimbingan skripsi secara online.

 

3. Fikri (Ilmu Sejarah UI, 2014)

Fikri waktu ini berada di ujung tanduk. Ia waktu ini tengah menekuni th. keenam perkuliahannya. Fikri terus berjuang untuk selesaikan skripsinya di bawah tengah ancaman Drop Out (DO) terkecuali tak bisa selesaikan skripsi semester ini. Saat ini, ia kudu melaksanakan wawancara secara online untuk melengkapi Info untuk pengerjaan skripsi. “Itu yang agak berat sih. Belum tentu yang dihubungi terhitung bisa. Terus narasumber banyak yang sibuk mendadak bersama dengan Work From Home

Sulitnya mencari literatur terhitung dirasakan Fikri. Ia tak bisa mengunjungi tempat-tempat untuk lihat arsip yang ia butuhkan sebagai data pendukung skripsi. “Saya terhitung rela pinjam buku ke lebih dari satu kenalan di Tangerang Selatan, Jakarta Selatan, serupa Jakarta Pusat jadi tak bisa gara-gara waktu mereka tak terima tamu. Buku-bukunya kesusahan didapatkan online,” katanya. Selain itu, Fikri tak bisa melaksanakan wawancara mendalam ke lebih dari satu narasumber skripsi di lapangan. Menurutnya, proses pengerjaan skripsinya tak lumayan dari hanya riset.

“Makanya kudu ke lapangan juga, mencari berkas-berkas, mengunjungi narasurmber sekalian berkontak serupa pihak narasumber lain,” tambahnya. Dalam proses pengerjaan skripsi, tak jarang ia merasa kesepian di indekos. Rekan-rekan indekost Fikri udah banyak yang pulang ke rumah tiap-tiap dan terhitung hampir tak tersedia teman untuk mengerjakan skripsi bersama. “Hampir tak tersedia teman membuat ngerjain bareng gara-gara yang diajak bareng pun takut membuat ketemu-ketemu dan takut saling nularin. Ada sih paling satu dua,” ujar Fikri.

Di kesusahan waktu ini, Fikri tetap terus menghubungi narasumbernya sambil mengecek penulisan skripsinya. Ia terhitung mencicil untuk membuat daftar singkatan, tabel, istilah, peta, daftar pustaka, dan lainnya. Meski dikepung kesulitan, Fikri selamanya bersyukur bersama dengan suasana yang ia jalani.

Fikri bersyukur gara-gara mendapat dosen pembimbing skripsi yang ringan dihubungi, selamanya berikan semangat, dan beri tambahan umpan balik. Ia berharap wabah pandemi corona ini cepat selesai agar wisuda semester genap 2020 bisa terselenggara.

Dengan begitu, orangtuanya dari Bengkulu bisa lihat Fikri diwisuda. “Maklum, mereka (orangtua Fikri) belum dulu nengokin sejak aku jadi mahasiswa th. 2014. Saya targetkan akhir April skripsi udah jadi sepenuhnya dan siap sidang,” kata Fikri.

 

4. Kiki (Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Tanjung Pura, 2016)

Dalam dua mingga era karantina, Kiki merevisi skripsi yang udah ia kerjakan. Baginya, bimbingan secara online tak lebih seru dibandingkan secara tatap muka.

“Tapi tiap-tiap tersedia kelebihan dan kekurangan. Karena selamanya stay di rumah, jadinya stimulus agak kendor, terkecuali dulu kan nunggu dosen sama-sama terus cerita-cerita, ngobrol-ngobrol serupa teman,” kata Kiki waktu .

Physical distancing ini membuat agenda wawancara bersama dengan narasumber skripsinya gagal. Ia merasa tersedia bisa saja skripsi yang ia susun tak selesai semester ini.

“Saya kesusahan mencari cerita untuk diterjemahkan ke Bahasa Inggris, kemudian, dibikin videonya,” ujar Kiki. Dalam mencari literatur untuk skripsinya, ia memakai perpustakaan digital yaitu IPusnas dan IKalbar. Kiki merasa kecewa lantaran koleksinya yang tak lengkap agar tak bisa mendukung penulisan skripsi. “Perpustakaan digital tak lumayan serupa sekali. Kecewa saya. Saya malah ga ketemu buku cerita rakyat Kalimantan Baratnya,” malah Kiki.

Skripsi yang ia susun memakai metode kualitatif. Kiki tengah mengembangkan learning resource untuk pembelajaran narrative text bhs Inggris memakai cerita rakyat Kalimantan Barat. Ia terhitung merasa physical distancing ini berpengaruh terhadap suasana kejiwaannya. Ia merasa kesepian gara-gara tak bisa pulang ke kampung halamannya di tengah wabah corona ini.

“Bapak aku kehilangan pekerjaan, soalnya papa aku tukang masak. Saya tak punya duwit untuk pulang kampung dan duwit yang tersedia untuk bertahan hidup sampe ke depannya. Tak mengerti kan corona ini hingga kapan. Saya khawatirnya wabah ini membuat krisis, dan bisa-bisa hingga setahun ke depan baru normal lagi,” ujar Kiki. Ia pun tetap menyisihkan tabungannya untuk pengerjaan skripsi. Tahap pengerjaan skripsi setelah penyempurnaan proposal nantinya adalah menyewa jasa kartunis untuk membuat produknya.