Perkembangan Biodiesel G1 dan G2

Selama ini biodiesel generasi pertama (G1) telah diproduksi dan digunakan secara luas baik dalam bentuk murninya maupun sebagai campuran dengan bahan bakar diesel turunan minyak bumi. Apa itu biodiesel G1?

Biodiesel ini dikenal sebagai metil ester asam lemak (fatty acid methyl ester, FAME) yang diperoleh dari proses transesterifikasi minyak nabati (trigliserida) dengan metanol menggunakan katalis. Untuk setiap konversi satu molekul trigliserida bakal menghasilkan tiga molekul FAME dan satu molekul produk samping yaitu gliserol.

Biodiesel G1 walaupun sudah dinyatakan siap diaplikasikan, namun masih memiliki beberapa masalah kompatibilitas terhadap mesin diesel saat ini.

Masalah tersebut diantaranya adalah korosi akibat kandungan atom oksigen yang tinggi dari FAME dan maksimum konsentrasi yang diijinkan sebagai campuran dengan minyak diesel dengan fill rite flow meter turunan minyak bumi (petrodiesel).

Dalam kaitannya dengan emisi gas rumah kaca karbon dioksida, kontribusi emisi karbon dioksida dari pembakaran FAME juga dikawatirkan masih relatif tinggi (akibat dari kandungan oksigen yang tinggi pada FAME).

Untuk membantu mengatasi masalah tersebut di atas, biodiesel generasi ke dua (G2) dengan spesifikasi mendekati petrodiesel juga telah dikembangkan.

Prinsipnya, biodiesel G2 merupakan hidrokarbon turunan dari minyak nabati yang mengalami proses hidrogenasi (hidroproses).

Melalui jalur ini, aneka minyak nabati, lemak binatang atau campuran biominyak dan minyak bumi bahkan minyak nabati bekas pakai (misalnya, waste cooking oil) bisa diproses sekaligus menghasilkan aneka fraksi hidrokarbon yang siap dipisah-murnikan. Sebagai contoh, hidroproses minyak kelapa sawit, minyak kedelai atau minyak biji bunga matahari menghasilkan turunan hidrokarbon dengan rantai karbon 15 hingga 18 sebagai produk utama.

Jadi, berbeda dengan hidrogenasi minyak nabati dalam industri makanan yang bukan ditujukan untuk menghasilkan bahan bakar. Pada hidroproses minyak nabati, terjadi rangkaian reaksi berupa hidrogenasi pada ikatan rangkap karbon-karbon, dekarboksilasi (menyingkirkan gugus karboksilat), dekarbonilasi (menyingkirkan gugus karbonil), isomerisasi, dan perengkahan.

Hidroproses minyak nabati mentah menawarkan proses yang lebih efisien tanpa menghasilkan hasil sampingan kecuali air dan CO2. Terlebih, hidroproses untuk menghasilkan biodiesel langsung dapat memanfaatkan teknologi pemurnian petroleum yang sudah mapan, misalnya hidrogenasi pada proses eliminasi sulfur yang terkandung dalam minyak bumi.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.