Welcome to Our Website

Arabica Java Preanger : Kopi Jawa Barat yang harum di mata dunia

Kopi dari pegunungan di Jawa Barat sedang naik daun. Tak cuma penikmat kopi dalam negeri yang memburu kopi-kopi dari tanah priangan ini, tetapi juga penyuka kopi dari luar negeri. Salah satu kopi Jawa Barat yang menjadi primadona adalah Java Preanger. Ketika zaman Belanda dulu, kopi Java Preanger ini menjadi salah satu komoditas terkenal di seluruh dunia dari tatar Sunda. Saking terkenalnya, kopi Java Preanger mendapat julukan ‘Secangkir Jawa’ (a cup off coffee) dari para pecintanya di luar negeri. Kopi Arabika asal daerah ini sudah terkenal ke berbagai negara sejak abad ke XVIII. Kopi Arabika Java Preanger ditanam pada lahan dengan ketinggian tempat di atas 1.000 m dpl. 

Mengenal Arabica Java Preanger

Di wilayah Priangan, tanaman kopi mulai banyak ditanam ketika pada bulan April 1723, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kebijakan tanam paksa (Cultuur Stesel /Preanger Malabar Stelsel). Cultuur Stelsel adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes Van Den Bosch yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila) dimana hasil tanaman ini harus dijual kepada pemerintah kolonial Belanda dengan harga yang sudah dipastikan. Untuk wilayah Priangan tanaman yang harus ditanam untuk kebijakan tanam paksa ini adalah tanaman kopi yang memaksa petani Priangan menanam tanaman kopi. Walaupun kopi ditanam dengan terpaksa, kopi hasil kebijakan tanam paksa ini sanggup memasok ribuan gulden per tahun ke kantung pemerintah kolonial Belanda, bahkan Kopi Indonesia pada waktu itu pernah menjadi produsen kopi Arabika terbesar di dunia.

Menurut Indikasi Geografis Kopi Arabika Java Preanger dibedakan menjadi dua varian yaitu Kopi Arabika Java Preanger Bandoeng Highland dan Kopi Arabika Java Preanger Sounda Mountain. Varian KAJP Bandoeng Highland adalah kopi yang diproduksi di wilayah Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Malabar, Gunung Caringin/Gunung Tilu, Gunung Patuha, Gunung Halu, Gunung Beser yang saat ini termasuk wilayah Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat sebelah Selatan dan Kabupaten Cianjur sebelah Timur.

Sedangkan varian KAJP Soenda Mountain adalah kopi yang diproduksi di wilayah gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Manglayang, yang saat ini termasuk wilayah Kabupaten Bandung Barat sebelah Utara, Kabupaten Purwakarta sebelah Selatan, Kabupaten Subang sebelah Utara-Timur (Timur Laut) dan Kabupaten Sumedang sebelah Selatan-Barat (Barat Daya), berada pada lereng gugusan gunung Soenda.

Kopi Arabica Preanger ditanam di dataran tinggi di wilayah Priangan, pada ketinggian minimal 1.000 m di atas permukaan laut, dan dengan curah hujan rata-rata 2.000 mm/tahun (tetapi di beberapa daerah bisa mencapai 3000-5000 mm/tahun)

Pengolahan Arabica Java Preanger

  • Proses natural (kering) ini dimulai dari ceri (biji kopi yang sudah memerah kulitnya dan layak panen) yang disortasi dan dikumpulkan kemudian dijemur utuh. Proses penjemuran ini bisa dilakukan di atas plastik atau batu selama 5-7 minggu. Setelah itu, kopi tinggal digiling.

  • Proses full wash maksudnya ceri kopi yang sudah dipanen kemudian direndam di air untuk memilih kopi yang bagus dan tidak. Jika kopi bagus maka dia tidak mengambang. Kemudian kulit kopi dikupas dan direndam selama 12-34 jam, dilanjutkan dengan penjemuran untuk mengurangi kadar air menjadi 10-12 persen.

  • Proses kopi semi wash mirip dengan full wash hanya berbeda pada pelepasan kulit ceri dari kopi. Pada semiwash, pelepasan kulit merah kopi dilakukan dengan mesin, tanpa perlu direndam dengan air.

  • Kopi dengan proses honey atau pulped natural diawali dengan membersihkan ceri dan lendir kopi. Pada setiap kopi ada lima lapisan: kulit, lendir, perkamen, kulit berwarna perak, dan biji kopi. Proses honey ini tidak melalui tahap fermentasi.

Karakteristik Rasa Kopi Arabica Java Preanger

Kopi Arabica Java Preanger Gunung Tilu memiliki cita rasa yang khas sehingga disukai  para penikmat kopi. Karena ditanam di hutan, aroma dan rasa Java Preanger lebih kuat dengan kombinasi rasa asam, rempah, dan buah yang seimbang. Aroma kopi Java Preanger tidak lepas dari jenis tanaman yang ada di sekitar. Sayur-sayuran menjadi tanaman yang sejak alam ada di Gunung Tilu. Bahkan, sebagian lahan kopi di sana dulunya ditanami sayur-sayuran.

Sedangkan cita rasa kopi Arabika Java Preanger Malabar unik dengan warna coklat gelap perpaduan rasa manis dan sedikit terasa rempah. Rasa asam yang muncul pada kopi Malabar berasal dari lokasi kopi tersebut tumbuh. Kopi arabika Malabar memiliki beragam rasa dari rasa coklat, madu hingga kopi rasa lemon. Kopi Arabika Malabar tumbuh di daerah dataran tinggi yang kaya mineral dan gunung berapi membuat kopi mempunyai tingkat keasaman tingkat tinggi. Kemudian biji kopi yang diolah secara basah juga berpengaruh terhadap rasa kopi hingga memiliki tingkat keasaman yang tinggi dibandingkan biji kopi kering

Berbeda lagi dengan Kopi Arabika Java Preanger Gunung Puntang yang dikenal mempunyai rasa yang kuat jika melalui proses penggilingan manual. Karakteristiknya manis dan sedikit asam, sangat cocok dengan lidah orang Indonesia Tak hanya itu, Kopi Gunung Puntang memiliki rasa buah lokal, mirip rasa jambu biji, pisang, dan nangka. Kopi Gunung Puntang memiliki aroma yang unik. Kopi ini beraroma blueberry, floral, jasmine, vanilla, dan lychee.